Berita

HM. Soeharto, Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat

HM. Soeharto, Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat

  • 11 days ago
  • Politik, Hukum, dan Keamanan

Seorang perwira lapangan dan cukup berpengalaman dalam bidang perang, HM. Soeharto begitu sumringah ketiga mendengar dirinya akan ditugaskan ke medan tempur. Karena hal itu pula yang mengantarkan beliau diangkat menjadi Panglima Divisi Diponegoro di Jawa Tengah. Namun, kali ini HM. Soeharto dipercayai untuk memimpin operasi militer pembebasan Irian Barat.

“Pelaksana komando itu adalah ‘Komando Mandala Pembebasan Irian Barat’, yang dipikulkan pada pundak saya,” ungkap Soeharto yang dituangkan dalam otobiografinbya Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya yang disusun Ramadhan K.H.

Saat itu, dengan bangga, HM. Soeharto menyambut panggilan tugas itu. Beliau merasa Panggung Irian Barat ini menjadi kesempatan bagi dirinya untuk membuktikan kualitas keperwiraannya. Terlebih, ia merupakan lulusan terbaik Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD), sehingga HM. Soeharto menyadari kemampuannya sedang dalam uji coba.
 

 “Kejadian ini merupakan suatu tantangan, tapi juga kehormatan yang luar biasa bagi Prajurit Sapta Marga,” ujarnya.

Dalam upaya melakukan pembebasan Irian Barat, kala itu dibentuk Komando Mandala pada 2 Januari 1962. Selang sepekan, Komando Operasi Tertinggi (KOTI) mengumumkan bahwa Brigadir Jenderal HM. Soeharto ditunjuk sebagai panglimanya. Dalam kesempatan yang, saat itu HM. Soeharto pun mendapat kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal. Saat kenaikan pangkat, HM. Soeharto dilantik langsung oleh Wakil Kepala Staf AD, Letnan Jenderal Gatot Subroto di Istana Bogor,pada 23 Januari 1962.

Sebagai informasi, kala itu posisi panglima yang dipegang Soeharto berbeda dengan panglima daerah kebanyakan. Komandonya terdiri dari beberapa divisi dengan total 42.000 pasukan gabungan dari semua matra. Adapun untuk wilayah perang Mandala membentang antara Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Dengan kata lain, seluruh kawasan Timur Indonesia saat itu dipimpin oleh HM. Soeharto untuk menghadapi Belanda di Irian Barat.

“Tugas saya sangat berlainan dengan tugas panglima-panglima di negara lain. Mereka itu menggunakan pasukan-pasukan yang telah disiapkan; sedangkan saya mesti menyusun pasukan-pasukan itu lebih dahulu. Baru sesudah itu saya dapat merencanakan operasi,” kata HM. Soeharto.
Pangkat Baru

Saat itu, selain jabatan panglima, HM. Soeharto juga diberi pangkat Gubernur Militer Mandala.Dengan kedudukannya itu, beliau diberikan kekuasaan hukum darurat efektif atas wilayah Mandala. Tak hanya sebagai panglima, tanggung jawab lain yang diembannya yakni  meningkatkan produksi pangan dan menyiapkan pemerintahan sipil Irian Barat sebagai misi pasca pembebasan.

Selama tiga bulan pertama, HM. Soeharto mengepalai Komando Mandala di markas Korps Caduad, Jakarta Pusat. Kemudian pada 12 Maret 1962, markas komandonya dipindahkan ke Makassar, Sulawesi Selatan. Dan di kota ini pula, anak kelima HM. Soeharto lahir yang kemudian diberi nama Hutomo Mandala Putra yang sekarang akrab disapa dengan Tommy Soeharto. HM. Soeharto menuturkan jika nama itu akan memberi kenang-kenangan tersendiri pada tugas yang sedang dijalankannya.

Selain itu, HM. Soeharto juga mendapat julukan “momok Belanda”. Ketika wartawan menanyakan perihal julukan tadi, HM. Soeharto pun tersenyum sambil menjawab. “Ya, bagaimana ya, biasa saja, ah?,” ungkap HM. Soeharto.

Meskipun popularitas yang dimiliki HM. Soeharto sangat baik, namun HM. Soeharto tetap memiliki karakter low profile. Selain itu, Panglima Komando Mandala HM. Soeharto juga dikenal sebagai seorang tokoh militer pendiam dan dianggap tak berambisi politik. Dengan begitu, beliau pun dianggap mampu untuk menjadi pengendali operasi militer yang direncanakan akan besar-besaran tersebut.

Sumber : beberapa sumber (dengan beberapa penyesuaian)

     

Komentar

blog comments powered by Disqus