Berita

Ketua DPP Berkarya : Bukan Rezim Orba Yang Ingin Kami Hadirkan, Tapi Semangat Wacana Trilogi Pembangunan

Ketua DPP Berkarya : Bukan Rezim Orba Yang Ingin Kami Hadirkan, Tapi Semangat Wacana Trilogi Pembangunan

  • 5 months ago
  • Pernyataan Politik

Berbicara mengenai paham komunis yang dilarang di Indonesia terkait penyitaan sejumlah buku. Partai Berkarya melalui Andi Badarudin Picunang yang merupakan Ketua DPP Berkarya mengatakan bahwa kelompok yang anti Presiden RI, HM. Soeharto merupakan prokomunis. Badar mengungkapkan bahwa kita harus belajar dari sejarah, dengan mengambil yang baik dan meneruskan cita-cita para pemimpin bangsa kita. Karena Partai Berkarya merupakan kelompok yang fokus becermin pada pikiran HM. Soeharto yang antikomunis. Untuk itu, apabila negara mengharamkan paham komunis, sebagai warga negara yang baik kita harus bela putusan tersebut.

"Kita belajar dari sejarah, ambil yang baik dan kita teruskan cita-cita para pemimpin bangsa kita. Kami kelompok yang fokus becermin pada pikiran-pikiran Pak Harto yang antikomunis. Ada juga kelompok yang anti-Pak Harto, berarti bisa disimpulkan mereka prokomunis. Kita kan bernegara dan aturan bernegara. Kalau negara mengharamkan paham komunis, wajib kita bela putusan itu," ungkap Andi Badarudin Picunang.

Sementara itu, Badar menambahkan pada tiap warga negara wajib 'mengharamkan' paham komunis. Karena hal tersebut tertuang dalam TAP MPRS 25/1966 tentang Pembubaran PKI.  Akan tetapi, Badar enggan menyebutkan jika Partai Berkarya dikaitkan dengan kebangkitan orde baru. Karena menurut Badar,  Partai Berkarya bukan ingin mengembalikan rezim Orba, melainkan semangat pembangunan wacana Trilogi Pembangunan yang saat ini dan ke depan dibutuhkan oleh bangsa Indonesia.

"Bukan rezim yang kami ingin hadirkan, tapi semangat pembangunan wacana Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan) yang saat ini dan ke depan masih dibutuhkan bangsa kita. Tentu dengan SDM yang mumpuni di bidangnya dan sesuai tuntutan zaman," jelas Andi Badarudin Picunang.

         

Komentar

blog comments powered by Disqus