Berita

Sambut Putra Putri Transmigran di Saung Berkarya, HMP Perkenalkan Biogas

Sambut Putra Putri Transmigran di Saung Berkarya, HMP Perkenalkan Biogas

  • 7 days ago
  • Isu Nasional

Hutomo Mandala Putra atau akrab disapa Tommy Soeharto belum lama ini menyambut kedatangan para putra-putri transmigran yang mengunjungi Saung Berkarya di Hambalang, Bogor dalam acara rangkaian Musyawarah Nasional ke IV Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI) yang digelar pada tanggal 12-14 Maret 2019.

Seperti diketahui, saung berkarya adalah bengkel kerja (workshop) yang dibangun dan diprakarsai oleh HMP sebagai wujud kepedulian Partai Berkarya terhadap persoalan pemenuhan pangan dan energi masyarakat. Saung tersebut terbuka untuk memberikan keahlian dan kecakapan dalam pertanian, peternakan dan biogas untuk masyarakat yang berminat dan membutuhkan. 

Dalam sambutannya HMP mengungkapkan bahwa sudah seharusnya setiap warga negara membantu pemerintah mencari solusi dan mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan energi yang semakin hari semakin parah. Untuk itu, Partai Berkarya membuat solusi  sederhana namun efektif untuk mencukupi kebutuhan energi keluarga. Terlebih, menurut HMP saat ini pemerintah pun sudah cukup kewalahan dengan subsidi LPG, subsidi tanah, dan subsidi pupuk yang nilainya cukup besar.

“Apalagi saat ini pemerintah pun sudah cukup kewalahan dengan subsidi LPG yang sudah mencapai Rp 24 triliun, subsidi minyak tanah yang besarnya Rp 18 triliun, serta subsidi pupuk yang mencapai Rp 12 triliun,” ungka HMP seperti yang dilansir dalam jp-news.id. 

Lebih lanjut, Dr. Sri Wahyuni yang juga merupakan penanggung jawab Saung Berkarya mengungkap bahwa sebagai warga masyarakat, kita dapat membantu pemerintah secara sederhana namun tetap efektif. 

Jadi, kita sebagai warga masyarakat bisa membantu pemerintah secara sederhana namun efektif.”ungkap Sri Wahyuni. 

Sementara itu, Sri Wahyuni juga menjelaskan bahwa program Kemandirian Pangan dan Energi tersebut berintikan pertanian terpadu. Karena dalam skala kecil masyarakat akan didorong untuk mampu memenuhi kebutuhan pangan dan energi mereka sendiri. Jadi, setiap desa dapat memiliki dan menonjolkan kekhasan mereka. Seperti ada desa yang kuat dalam peternakan ayam, dalam budi daya cabai, budi daya tomat, itu semua harus didorong. 

"Desa cabai, misalnya, harus mampu memproduksi sampai semacam bon cabe, desa yang kuat tomat harus bisa memproduksi saus tomat sendiri,” ujar Sri Wahyuni. 

Lalu, Sri Wahyuni juga menambahkan bahwa kita juga bisa berkombinasi dengan peternakan, dari kotoran ternaknya itulah yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk membuat biogas sebagai upaya untuk memenuhi energi. Seperti di desa-desa transmigrasi yang terpencil, dimana minyak tanah dan LPG susah. Dengan biogas itulah kita dapat membantu memenuhi kebutuhan energi di desa-desa transmigrasi terpencil. 

 “Di desa-desa transmigrasi yang terpencil, dimana minyak tanah dan LPG susah, kemampuan membuat dan memanfaatkan biogas akan sangat membantu,” tambah Sri Wahyuni. 

Seperti diketahui, Sri yang juga merupakan anggota Dewan Pakar Partai Berkarya itu menyebutkan bahwa pihak Saung Berkarya juga sudah memiliki proyek percontohan di Sentani, Papua. Ke depan akan segera dilakukan percobaan di Nager, Merauke, Kerom, lalu Jayapura dan beberapa tempat lain di Papua. Saung Berkarya pun juga akan memperluas ke kawasan Indonesia Timur, seperti NTT, Kalimantan Barat, beberapa wilayah di Jawa yang akan jadi ajang uji coba partai dalam pengembangan biogas. 

Tak hanya itu, saat ini Berkarya juga tengah mencoba pembuatan biogas dari rumah tangga, yakni dengan memanfaatkan limbah keluarga. Hal tersebut tengah dicoba di beberapa pesantren di Jawa Tengah dan Banten. Itu semua dilakukan demi pemanfaatan biogas untuk menambah kesejahteraan masyarakat di daerah. 

“Dalam waktu dekat, kami juga akan membangun sarana pembuatan biogas dari limbah keluarga ini di Pesantren Nurul Iman, Parung, Kabupaten Bogor,” jelas Sri Wahyuni. 

         

Komentar

blog comments powered by Disqus