Berita

Tutut Soeharto : Para Transmigran Layak Dinobatkan Sebagai Pahlawan Tanpa Nama

Tutut Soeharto : Para Transmigran Layak Dinobatkan Sebagai Pahlawan Tanpa Nama

  • 8 days ago
  • Isu Nasional

Siti Hardijanti Rukmana atau akrab disapa Tutut Soeharto hari ini dipercaya untuk menjadi pembicara kunci dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) Perhimpunan Anak Transmigrasi Republik Indonesia (PATRI) di Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Acara yang bertema "Dengan Munas IV PATRI kita tingkatkan peran PATRI dalam merekatkan NKRI, pembangun perdesaan dan transmigrasi menuju Indonesia Berdaulat".

Dalam acara tersebut, Tutut Soeharto memaparkan berbagai tujuan program transmigrasi di era kepemimpinan ayahnya, HM. Soeharto. Di antaranya meningkatkan taraf hidup yang menjadi salah satu fokus HM. Soeharto. Hal itu dikarenakanpada tahun 2970-an HM. Soeharto melihat para petani dengan jumlah belasan juta mempunyai tanah yang sangat kecil. Tak hanya itu, transmigrasi juga meningkatkan pembangunan daerah (luar Jawa), melaksanakan pemerataan pembangunan, dan memanfaatkan sumber daya alam dan tenaga manusia. Karena itu semua untuk meningkatkan kemakmuran dan taraf hidup.

“Meningkatkan taraf hidup merupakan salah satu fokus beliau (Soeharto) sejak dulu. Kenapa demikian? Karena pada 1970-an itu Bapak melihat petani yang jumlahnya belasan juta itu mempunyai tanah yang sangat kecil. Tidak bisa diolah untuk meningkatkan kemakmuran dan taraf hidup mereka,” ungkap Tutut Soeharto seperti yang dilansir dalam indonesiainside.id.

Saat itu, sang ayah HM. Soeharto juga mempunyai beberapa pemikiran, yang di antaranya membentuk koperasi dan transmigrasi. Selain itu juga mengajak masyarakat untuk menempati daerah lain yang masih dapat digarap. Terlebih di Jawa ini sudah padat, sehingga tanah yang dimiliki petani sangat kecil. Tutut menambahkan, ketika itu masyarakat yang mengikuti program transmigrasi mendapatkan tanah yang luas di daerah. Setiap kepala keluarga (KK) untuk mendapatkan sekiuta dua hektare dan sudah menjadi hak milik. Meskipun kendalanya banyak, tetapi banyak juga masyarakat yang ikut berbondong-bondong transmigrasi dari Jawa.

“Karena di Jawa ini sudah padat sekali. Sehingga tanah yang dimiliki petani sangat kecil. Jadi, jauh sekali bedanya (dengan sekarang). Memang kendalanya banyak, tapi banyak sekali masyarakat yang mau mengikuti transmigrasi secara sukarela. Tidak pernah terpaksa dan mereka ikut berbondong-bondong transmigrasi dari Jawa,” tambah Tutut Soeharto.

Sementara itu, menurut Tutut Soeharto para transmigran layak dinobatkan sebagai pahlawan tanpa nama. Karena mereka berani mempertaruhkan hidup dan masa depan di tempat yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Terlebih, mereka awalnya sama sekali tidak mengenal tetangga sekitar dan tidak menguasai teritorial daerah yang menjadi tujuan transmigrasi. Karena bagi Tutut Soeharti para transmigran sangat luar biasa. Dengan datangnya transmigran, daerah menjadi lebih bernilai karena diolah lagi, sehingga kemajuan-kemajuan dapat kita rasakan.

“Saya menganggap beliau itu sebagai pahlawan dan sekarang tugas putra-putri untuk melanjutkan perjuangan orang tua yang secara sukarela mau bertanggung jawab untuk ditempatkan di tempat lain. Dengan datangnya transmigran, daerah itu menjadi lebih bernilai karena diolah lagi, sehingga kemajuan-kemajuan juga dapat dirasakan,” jelas Tutut Soeharto.

 

         

Komentar

blog comments powered by Disqus